Pelita Air berhenti, Aviastar Datang

Kalteng Pos

Kolom: Fokus

Kamis, tanggal 22 Januari 2009

 

Berakhirnya kerjasama dengan Pelita Air akhir 2008, tak berarti penerbangan perintis Kalteng terhenti. Pemerintah provinsi Kalteng pun menggandeng Aviastar untuk melayani rute-rute dari Palangka Raya ke sejumlah kabupaten.

Kemarin (21/1) siang sekitar pukul 13.52 WIB, penerbangan perdana dari Bandara Tjilik Riwut dengan tujuan Bandara Dirung Lingkin Puruk Cahu, dilakukan dengan membawa penumpang 14 orang, sekitar pukul 15.32 WIB, pesawat tiba kembali di Palangka Raya dengan penumpang tujuh orang.

 

Menurut Commercial Manager PT Aviastar Mandiri Vincent Suryanto penerbangan menggunakan pesawat DHC-6-300 Twin Otter dengan kapasitas 18 penumpang. Pengelolaannya dikelola oleh pemerintah daerah (pemda), termasuk penentuan tarif tiket.

 

“Kami hanya menerbangkan pesawat, sedangkan pengelolaan sepenuhnya dilakukan pemda,” kata Vincent kepada sejumlah wartawan, sebelum pesawat yag dimoncongnya tertulis Isenn Mulang berwarna merah ini melakukan penerbangan perdana.

 

Vincent menjelaskan penerbangkan tersebut sekaligus mewujudkan keinginan perusahaannya untuk mendukung terbukanya jalur udara di kabupaten-kabupaten se Kalteng dan memudahkan transportasi antar wilayah.

 

Penerbangan ini berarti menggantikan penerbangan PT Pelita Air yang pada 2008 telah berakhir kejasama dengan Pemkab Murung Raya (Mura). Sebelumnya Aviastar sudah menerbangi rute Puruk Cahu – Balikpapan (Kalimantan Timur), terkait kerjasama dengan PT Indomoro Kencana (IMK) dengan system carter seat.

 

Ditambahkan oleh Kabid Transportasi Udara Dinas Perhubungan, Komunikasi dan informatika (Dishubkominfo) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) Kasturi penentuan tarif tiket saat ini disesuaikan dengan kemampuan masyarakat. Kekurangan harga tiket untuk biaya operasional pesawat, jika hal itu terjadi akan di subsidi oleh pemprov.

 

Saat ini rute yang dilayani adalah Palangka Raya – Puruk cahu, 3 kali seminggu pulang pergi (PP) dengan tarif Rp. 560.000 (ditambah pajak pertambahan nilai/PPN 10 persen dan IWJR)  per orang. Palangkaraya Raya – Kuala Kurun, 2 kali seminggu PP dengan tariff Rp. 200.000 per orang (belum termasuk PPN dan IWJR). Palangkaraya Raya – Buntok, 2 kali seminggu PP dengan tariff Rp. 200.000 (belum termasuk PPN dan IWJR bukan Rp. 250.000), Palangkaraya – Kuala Pembuang dengan tariff Rp. 275.000 (belum termasuk PPN dan IWJR) 2 kali seminggu. Palangka Raya – Pangkalan Bun dengan tariff Rp. 300.000 (belum termausk PPN dan IWJR). Palangka Raya – Muara Teweh dengan tariff Rp. 380.00 (belum termasuk PPN dan IWJR), 2 kali seminggu.

 

“Pesawat akan bermalam di Palangka Raya. Kami juga sedang menupayakan agar warga berurusan ke Jakarta, bisa langung berangkat hari itu juga,” kata Kasturi.

 

Upaya penambahan penerbangan ke Jakarta ini rencananya masih akan dibicarakan dengan salah satu maskapai penerbangan. Salah satu maskapai yang mengaku sudah menyanggupi penawmbahan frekuensi ini adalah PT Garuda Indonesia.

 

Sementara itu, penerbangan ke Puruk Cahu sempat terlambat sekitar hamper dua jam kurang dari jadual pukul 12.00 WIB. “Cuaca di Puruk Cahu buruk, karena itu menunggu dulu hingga kondisi memungkinkan ,” terang Kasturi mengenai keterlambatan keberangkatan (delayed). (ust)